Pembelajaran Aktif

Pembelajaran Kreatif, Efektif, Menyenangkan

Oleh: Dwijanto

Abstrak

Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif  dan Menyenangkan mesti harus diusahakan bagi setiap guru didalam melaksanakan tugas sehari-hari. Kata-kata tersebut janganlah hanya merupakan slogan yang tidak bermakna tetapi harus menjadi kenyataan yang terjadi di lapangan.

Untuk menciptakan pembelajaran seperti tersebut diatas bukanlah hal yang sederhana, tetapi juga bukan hal yang sukar, kalau guru itu mau mengusahakannya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika akan merancang pembelajaran yang Pakem antara lain guru hendaknya:

  1. memahami sifat anak,
  2. mengenal peserta didik secara individu/perorangan,
  3. memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar,
  4. mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan kemampuan memecahkan masalah,
  5. mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik,
  6. memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar,
  7. memberikan umpan balik yang bertanggung jawab untuk meningkatkan kegiatan belajar mengajar,
  8. membedakan antara aktif fisik dan aktif mental.

Untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran, guru hendaknya:

  • Mempersiapkan pembelajaran sebelum mengajar yaitu membuat RPP yang sesuai.
  • Menguasai Materi pelajaran, sehingga dapat menghasilkan pesan pembelajaran yang benar.
  • Memahami teori pembelajaran, sehingga dapat mengajarkan materi pelajaran sesuai dengan kemampuan peserta didik yang dihadapi.
  • Memahami pentingnya media pembelajaran dan dapat menggunakannya dalam proses pembelajaran.
  • Mengikuti perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, khususnya yang menyangkut pembelajaran.
  • Mau memperbaruhi diri dalam pemahaman ilmu pengetahuan.

Kata Kunci:

Pembelajaran Pakem,  Media Pembelajaran, Pengembangan Teknologi Pembelajaran, Komputer.

Pendahuluan

Mutu Pendidikan di Indonesia semakin hari semakin baik. Ini ditandai dengan meningkatnya kemampuan dasar peserta  didik dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Kita sering melihat dari sisi kurangnya saja dari perserta didik dan jarang melihat dari sisi keunggulan yang dicapai siswa.

Guru sering menuntut kepada peserta didiknya seperti yang dikuasainya, padahal seorang guru (SMP – SMA) hanya memegang/menguasai satu bidang saja sementara peserta didik harus mengikuti sejumlah palajaran di sekolah. Inilah letak ketidakadilan dalam memandang kemampuan peserta didik.  Guru/Kepala sekolah sering melihat kemampuan peserta didik dari hasil UN untuk kelas akhir (9 untuk SMP dan 12 untuk SMA) atau UAS (Ulangan Akhir Sekolah) untuk kelas-kelas sebelumnya.

Kalau kita mau jujur, kita bandingkan dengan kemampuan kita (guru) ketika kita sekolah dulu pada usia yang sama, kita akan mengakui bahwa kemampuan peserta didik jaman sekarang sudah lebih maju. Ini dapat dilihat pula kalau kita mengkaji berbagai kurikulum di Indosesia dari masa ke masa. Misalnya kurikulum 1975, 1984, 1994, 2002, 2004 dan terakhir kurikulum 2006. Kurikulum di Indonesia kian kesini kian sempurna sehingga tuntutan juga semakin berat yang berakibat bahwa  peserta didik secara kualitatif makin baik kemampuannya.

Dari hasil diatas, kita boleh berbangga sejenak, tetapi perlu kita ketahui bahwa tuntutan jaman kian kemari kian meng-global pula. Oleh karena itu kita harus menyiapkan peserta didik kita untuk menghadapi tantangan sekarang dan masa depan. Peserta didik harus mempu bersaing di pasar global, dimana arus informasi makin kompleks dan persaingan datang dari berbagai arah, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Satu hal yang tidak boleh ditawar-tawar yaitu kemampuan berkomunikasi dengan bahasa internasional yaitu bahasa inggris.

Dalam proses pembelajaran, kita tidak boleh hanya menggunakan model pembelajaran secara konvensional, dimana dalam proses pembelajaran menempatkan guru sebagai sumber utama dalam belajar. Sumber belajar dalam proses pembelajaran harus datang dari berbagai arah, misalnya buku, jurnal yang diambil dari majalah atau dari internet, CD yang dirancang untuk pembelajaran, lingkungan setempat, dan masih banyak sumber lain yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran ini lebih menempatkan guru sebagai fasilitator, yaitu orang yang memberikan fasilitas kepada peserta didik untuk belajar. Namun demikian guru tetap sebagai nara sumber, pengarah, dan pengambil keputusan.

Pembelajaran Kreatif, Efektif dan Menyenangkan

Pembelajaran yang membawa peserta didik untuk Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan atau PAKEM sering menjadi slogan dalam pembelajaran. Akhir-akhir ini masih ditambahkan dengan istilah Inovatif yang sebenarnya inovatif itu sudah termasuk di dalam kreatif. Kata-kata tersebut diatas cukup mudah diucapkan tetapi sebenarnya kita mungkin belum memahami secara benar, dan akibatnya kita tidak dapat melakukanya dengan benar. Berikut akan kita bahas secara sekilas.

Aktif diartikan peserta didik maupun berinteraksi untuk menunjang pembelajaran. Guru harus menciptakan suasana sehingga peserta didik aktif bertanya, memberikan tanggapan, mengungkapkan ide dan mendemonstrasikan gagasan atau idenya. Guru aktif akan memantau kegiatan belajar peserta  didik, memberi umpan balik, mengajukan pertanyaan menantang dan mempertanyakan gagasan anak didik. Dengan memberikan kesempatan peserta didik aktif akan mendorong kreativitas peserta didik dalam belajar maupun memecahkan masalah. Kreatif diartikan guru memberikan variasi dalam kegiatan belajar mengajar  dan membuat alat bantu balajar, bahkan mencipta teknik-teknik mengajar tertentu sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik dan tujuan belajarnya. Peserta didik akan kreatif, bila diberi kesempatan merancang/membuat sesuatu, menuliskan ide atau gagasan. Kegiatan tersebut akan memuaskan rasa keingintahuan dan imajinasi mereka. Apabila suasana belajar yang aktif dan kreatif terjadi, maka akan mendorong peserta didik untuk menyenangi dan memotivasi mereka untuk terus mengembangkan diri melalui belajar.

Menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar mengajar yang ”hidup”, semarak, terkondisi untuk terus berlanjut, ekspresif, dan mendorong pemusatan perhatian peserta didik terhadap kegiatan belajar. Agar menyenangkan dipelukan afirmasi (penguatan/penegasan), memberi pengakuan dan merayakan kerja kerasnya dengan tepuk tangan, poster umum, catatan pribadi atau saling menghargai. Kegiatan belajar yang aktif, kreatif dan menyenangkan harus tetap bersandar pada tujuan atau kompetensi yang akan dicapai.

Efektif yang diartikan sebagai ketercapaian suatu tujuan (kompetensi) merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. Pembelajaran yang tampaknya aktif dan menyenangkan, tetapi tidak efektif akan tampak hanya sekedar permainan belaka.

Secara garis besar PAKEM menggambarkan kondisi-kondisi sebagai berikut:

  1. Perserta didik terlibat dalam berbagai kegiatan (aktifitas) yang mengembangan keterampilan, kemampuan dan pemahamannya dengan menekankan pada belajar dengan berbuat (learning by doing).
  2. Guru menggunakan berbagai stimulus/motivasi dan alat peraga, termasuk lingkungan sebagai sumber belajar agar pengajaran lebih menarik, menyenangkan dan relevan bagi peserta didik.
  3. Guru mengatur kelas untuk memajang buku-buku dan materi-materi yang menarik dan membuat ”pojok bacaan”.
  4. Guru menggunakan cara belajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk belajar kelompok.
  5. Guru mendorong peserta didik untuk  menemukan caranya sendiri dalam menyelesaikan suatu masalah, mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan peserta didik dalam menciptakan lingkungan sekolahnya sendiri.

Dalam pelaksanaan PAKEM perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu: memahami sifat anak

  • mengenal peserta didik secara individu/perorangan
  • memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
  • mengembangkan kemampuan bepikir kritis, kreatif dam kemampuan memecahkan masalah
  • mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
  • memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
  • memberikan umpan balik yang bertanggung jawab untuk meningkatkan kegiatan belajar mengajar
  • membedakan antara aktif fisik dan aktif mental.

Teori Pembelajaran yang mendukung

Dalam mengembangkan proses pembelajaran, perlu memperhatikan teori-teori pembelajaran yang mendukung sebuah proses pembelajaran akan berjalan dengan baik. Sebuah model/strategi/pendekatan pembelajaran baik untuk kondisi tertentu tetapi mungkin tidak cocok untuk kondisi yang berbeda. Sebagai contoh melakukan perkalian adalah menjumlahkan secara berulang cocok untuk diterapkan pada peserta didik kelas 3 SD, tetapi akan menjadi membosankan untuk peserta didik di SMP apalagi untuk peserta didik SMA. Pendataan langsung dengan membilang banyaknya mobil yang lewat cocok untuk peserta didik SMP tetapi tidak cocok untuk peserta didik SMA. Untuk itu seyogyanya guru memahami teori pembelajaran yang mendukung sebuah proses pembelajaran.

Secara garis besar teori pembelajaran dibagi menjadi dua, yaitu teori behaviouristic (tingkah laku) dan teori kognitif (tingkat berpikir anak). Dalam pembelajaran, teori behaviouristic lebih menekankan pembentukan lingkungan belajar mengajar di kelas agar peserta didik lebih dapat menerima materi yang akan disajikan dalam proses pembelajaran. Jadi pada teori ini, guru harus menciptakan suasana belajar yang paling kondusif untuk terciptanya peembelajaran yang optimal. Berbeda dengan teori ini, teori kognitif lebih memperhatikan tingkat kemampuan peserta didik agar sebuah pembelajaran dapat diterima secara optimal. Pada teori kognitif ini berpandangan bahwa dengan lingkungan sebaik apapun, peserta didik tidak akan dapat belajar dengan baik apabila perserta didik tersebut belum mencapai umurnya. Pengertian umur disini tidak selalu dalam tahun, tetapi umur kemampuan berpikir.

Tokoh-tokoh yang mendukung teori behaviouristic antara lain: Thorndike, Ausubel, Gagne, Pavlov, Bandura, sedangkan tokoh-tokoh yang mendukung teori kognitif antara lain: Piaget, Bruner, Dieness, Van Hiele, Vygotsky. Masing-masing tokoh tersebut diatas mengembangkan sebuah teori pembelajaran yang cocok untuk situasi-situasi tertentu.

Sebagai gambaran sekilas, Ausubel lebih cocok pada teori behaviouristic. Teori Ausubel terkenal dengan teori belajar bermakna. Ausubel membedakan belajar menjadi belajar menerima dan belajar menemukan. Pada belajar menerima, bentuk akhir dari sesuatu yang diajarkan itu diberikan, sedangkan belajar menemukan bentuk akhir itu harus dicari siswa. Selain itu Ausubel juga membedakan antara belajar bermakna dan belajar menghafal. Belajar bermakna adalah suatu proses di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Sedangkan belajar menghafal diperlukan untuk informasi baru. Menurut teori belajar bermakna, belajar menerima dan belajar menemukan keduanya dapat menjadi belajar bermakna apabila konsep baru atau informasi baru dikaitkan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif peserta didik.

Vygotsky dan Bruner adalah tokoh kognitif sesudah Piaget yang mempunyai pandangan sebagai berikut:

Teori Belajar Vygotsky

Teori belajar Vygotsky sejalan dengan teori belajar Piaget yang meyakini bahwa perkembangan intelektual terjadi pada saat individu menghadapi tantangan dan pengalaman baru, serta untuk memecahkan masalah yang muncul. Dalam upaya mendapatkan pemahaman, individu yang bersangkutan berusaha mengkaitkan pengalaman baru dengan pengalaman yang telah dimilikinya kemudian membangun pengertian baru.

Untuk beberapa hal penting terdapat perbedaan pandangan antara Vygotsky dengan Piaget. Salah satunya adalah, Piaget memasukkan pada tahap-tahap perkembangan intelektual yang dilalui oleh semua individu tanpa memandang latar belakang konteks sosial dan budayanya. Sedangkan Vygotsky memberi tempat yang lebih penting pada aspek sosial pembelajaran. Vygotsky mempercayai bahwa interaksi sosial dengan teman lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa.

Satu ide kunci yang menarik dari teori Vygotsky tentang aspek sosial belajar mengenai Zona Perkembangan Proksimal (Zona of Proximal Development). Menurut teori ini siswa mempunyai dua tingkat perkembangan yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual didefinisikan pemfungsian intelektual individu saat ini dan kemampuan untuk belajar sesuatu yang khusus atas kemampuan sendiri. Sedangkan tingkat perkembangan potensial sebagai tingkat seseorang individu dapat memfungsikan atau mencapai tingkat itu dengan bantuan orang lain seperti guru, orang tua, atau teman sejawat yang kemampuannya lebih tinggi.

Selain dua zona tersebut, ada yang dinamakan zona perkembangan terdekat yaitu zona yang terletak diantara tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potennsial. Zona perkembangan terdekat adalah tingkat perkembangan sedikit diatas perkembangan aktual seseorang saat ini. Lebih jauh lagi Vygotsky menjelaskan bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi terserap ke dalam individu yang bersangkutan.

Prinsip-prinsip teori Vygotsky ini merupakan bagian kegiatan pembelajaran untuk pembelajaran berbasis masalah melalui bekerja kelompok kecil.

Teori Belajar Jerome S. Bruner

Bruner terkenal dengan metode penemuannya. Dalam proses belajar mengajar, pengertian penemuan di sini bagi siswa adalah penemuan kembali (reinventian), jadi dalam proses belajar mengajar siswa diajak untuk menemukan kembali aturan-aturan atau dalil-dalil yang sudah ada.

Bruner memandang bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dengan demikian dengan metode penemuan membuat pengetahuan siswa akan menjadi lebih baik. Akibatnya  dari metode ini, bahwa Bruner tidak mengembangkan teori belajar secara sistematis, namun yang penting adalah bagaimana orang memilih, mempertahankan, dan mentransformasikan informasi secara aktif.

Selanjutnya seiring dengan struktur kognitif anak, maka Bruner dalam mengembangkan teorinya mendasarkan atas dua asumsi yaitu: Pertama, perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif, artinya orang yang belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif, perubahan terjadi pada pada diri individu dan lingkungannya. Kedua, seseorang mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang telah dimilikinya.

Dengan metode penemuan ini, dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, Bruner mengembangkan teknik scaffolding dan interaksi sosial didalam kelas. Scaffolding adalah proses untuk membantu kesulitan siswa dalam menuntaskan masalah tertentu sehingga siswa dapat melampaui kapasitas kemampuannya melalui bantuan guru, teman atau orang lain yang memiliki kemampuan lebih.

Media Pembelajaran

Untuk membantu penerimaan pelajaran pada peserta didik, perlu adanya media pembelajaran. Media ini dapat berupa benda-benda fisik, benda tiruan (alat peraga), gambar, film atau alat lain yang dapat mendukung terciptanya proses pembelajaran dengan baik. Pada saat ini peran multimedia komputer perlu mendapat pertimbangan di dalam mengembangkan proses pembelajaran.

Multimedia sangat erat kaitannya dengan media elektronik khususnya komputer. Pada saat ini, komputer sudah banyak digunakan dalam pembelajaran di kelas guna mempermudah proses belajar mengajar. Secara umum komputer dalam pembelajaran memiliki tiga fungsi yaitu: (1) komputer sebagai media pembelajaran, (2) komputer sebagai alat bantu pembelajaran, dan (3) komputer sebagai sarana komunikasi dalam pembelajaran.

(1). Komputer sebagai media pembelajaran dimaksud bahwa komputer digunakan untuk merancang bahan/materi pembelajaran yang dikemas dalam sebuah paket pembelajaran yang biasa disebut CD pembelajaran atau CD interaktif. Dinamakan CD pembelajaran atau CD interaktif karena biasanya bahan/materi pembelajaran dibuat di dalam CD yang dapat dijalankan dalam komputer atau CD player. Dalam hal ini, secara kasar dapat dikatakan bahwa CD digunakan sebagai “Buku +” dimana siswa dapat memutar CD dan dari CD siswa dapat mempelajari isi pelajaran.

(2). Komputer sebagai alat bantu pembelajaran dimaksudkan bahwa komputer digunakan sebagai alat bantu hitung untuk mempercepat perhitungan yang cukup rumit. Dalam hal ini komputer sebagai TOOLS dalam menyelesaikan masalah perhitungan seperti statistika (SPSS), riset operasi (Lindo/Solver) atau menggambarkan grafik dengan Maple, derive atau Auto CAD.

(3). Komputer sebagai sarana komunikasi dalam pembelajaran dimaksud bahwa komputer sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan bahan/materi pembelajaran, mencari informasi dalam komputer yang biasanya berbentuk jurnal atau bahan ajar yang diambil dari internet, atau komunikasi tugas siswa yang diambil dari WEB guru/dosen untuk dikerjakan dan akhirnya diserahkan /dikirim ke WEB tersebut, dalam hal ini biasanya digunakan Web Blog. Atau pembelajaran langsung melalui internet (jarak jauh) atau intranet (LAN) untuk jarak dekat.

Desain Pembelajaran

Untuk dapat melakukan proses pembelajaran dengan baik, maka pembelajaran itu harus dirancang dengan baik, mulai dari pembuatan RPP, menyiapkan peralatan yang dibutuhkan seperti alat peraga sampai pada peralatan lain yang mungkin dibutuhkan dan tersedia seperti OHP, Slide Proyektor, Komputer, LCD, Kamera dan lain-lain.

Sebagai contoh, untuk mengajarkan luas daerah segitiga sekolah dasar, maka siswa diajak mengotak atik daerah segitiga menjadi daerah persegi panjang seperti berikut ini.

tinggi = t                                                                                 tinggi = t/2

Alas = a                                                                                      alas = a

Dari gambar di atas, peserta didik diajak menyimpulkan berapa luas segitiga itu?

Daerah Segitiga memiliki panjang sisi alas = a dan tingginya = t,

Setelah diubah menjadi bangun persegi panjang, maka diperoleh persegi panjang dengan ukuran panjang alas = a dan tingginya = lebar = ½ t. Jadi kedua bangun tersebut mempunyai luas yang sama.

Oleh karena itu luas daerah segitiga = luas daerah persegi panjang

= a x ½ x t

= ½ at.

Strategi pembelajaran dapat menggunakan belajar kelompok kecil, tiap kelompok sekitar 4 anak dan setiap kelompok diberi model dari kertas. Namun demikian dapat pula dengan pembelajaran klasikal, yaitu guru memperagakan model tersebut dengan kertas/triplek yang cukup besar yang dapat dilihat semua peserta didik, atau menggunakan komputer dan LCD.

Untuk pembelajaran materi sistem persamaan linear dua variabel atau banyak variabel, peserta didik dapat diajak menggunakan Excel khususnya program solver untuk menyelesaikannya. Misalnya diberi masalah sistem persamaan linear dua variabel sebagai berikut:

3x + 5 y = 47
5x + 2y = 34

Dengan Excel, maka soal tersebut kita tulis dengan

Nilai Awal koefisien x dan y diberi 0, sehingga sel B4 dan sel C4 kita isi dengan 0

Pada sel B6 (Total) dituliskan rumus =B4+C4

Pada sel F2 kita tuliskan =SUMPRODUCT(B2:C2;B4:C4) dan

Pada sel F3 kita tuliskan =SUMPRODUCT(B3:C3;B4:C4)

Setelah persiapan selesai kita jalankan Solver

Ketika menjalankan solver maka menu yang muncul adalah

Kemudian untuk kasus tadi, menu solver kita isi sebagai berikut:

Selanjutnya mengisi menu option dengan men cek (contreng) Assume Linear model dan Assume Non-Negative seperti gambar berikut, maka apabila kita pilih OK dan Solve akan

Diperoleh jawaban:

Hasil ini menunjukkan bahwa x = 4 dan y = 7.

Dengan Solver ini kelihatannya rumit, sebenarnya tidak kalau sudak biasa. Keuntungan menggunakan Solver ini cukup besar karena dengan solver ini dapat menyelesaikan sistem persamaan linear dengan 200 variavel, dan kelak akan digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam program linear. (Masalah di Perguruan Tinggi).

Sebagai ilustrasi kita gunakan untuk menyelesaikan SPL dengan 3 variabel berikut:

Selesaikan sistem persamaan berikut!

4x + 5y + 6z = 83
4x + 3y + 5z = 66
x + 5y + 7z = 78

Dengan membuat model seperti diatas, maka dengan solver akan kita peroleh:

Hasil tersebut berarti x = 4, y = 5 dan z = 7.

Dengan bantuan komputer ini, peserta didik tidak terikat dengan masalah perhitungan banyaknya variabel. Dengan demikian maka peserta didik dapat mengembangkan masalah yang berhubungan dengan sistem persamaan linear ini dalam kehidupan nyata. Ini akan mendorong peserta didik untuk berkreasi mengembangkan kemampuan berpikir logis atau bernalar, sehingga hasil akhir yang dicapai adalah daya kreativitas peserta didik akan meningkat. Selain daya kreativitas peserta didik, kemampuan pemecahan masalah peserta didikpun juga akan meningkat. Bila pembelajaran ini terjadi, maka siswa akan senang mengikuti pelajaran di kelas.

Kesimpulan

Untuk menciptakan proses pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan, maka guru hendaknya:

  • Mempersiapkan pembelajaran sebelum mengajar yautu membuat RPP yang sesuai.
  • Menguasai Materi pelajaran, sehingga dapat menghasilkan pesan pembelajaran yang benar.
  • Memahami teori pembelajaran, sehingga dapat mengajarkan materi pelajaran sesuai dengan kemampuan peserta didik yang dihadapi.
  • Memahami pentingnya media pembelajaran dan dapat menggunakannya dalam proses pembelajaran.
  • Mengikuti perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, khususnya yang menyangkut pembelajaran.
  • Mau memperbaruhi diri dalam pemahaman ilmu pengetahuan.

Daftar Pustaka

Dwijanto, 2007. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Komputer terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah dan Berpikir Kreatif Matematik Mahasiswa. Disertasi. PPs UPI: Bandung (Tidak dipublikasikan)

Dwijanto. 2008. Program Linear Berbantuan Komputer: Lindo, Lingo dan Solver. Semarang Unnes Press.

Hergenhahn B.R. dan Olson M.H. 2008. The Theories of Learning. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Munandar U. 1999. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta:PT Gramedia.

Suherman E. Dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung :Imstep UPI.

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , | Tinggalkan komentar

Post navigation

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: